Cerita Korban Selamat Jatunya Pesawat Garuda GA421

Korban Selamat Jatuhnya Pesawat Garuda GA421.(Foto/Sreenshot Hp)

Mataram, – Cerita Marinah korban jatuhnya pesawat Garuda GA421 rute Mataram menuju Yogjakarta dalam agenda mengikuti Musyawarah Luar Biasa (MLB) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang akan rencananya akan digelarnya di Yogyakarta.

Pada awalnya Marinah berangkat dari Mataram pada pukul 15.30 wita dengan menggunakan pesawat Boeing 7300 menuju Yogjakarta dengan memakan waktu kurang lebih 1 jam 60 menit.

Ketika berangkat, Marinah tidak ada pikiran macam-macam walaupun pesawat itu sejak berangkat menurut keterangan dari teman-teman setelah terjadi kecelakaan tidak ada apa-apa nya seperti itu.

Cerita Marinah sejak Pesawat mulai take off dirinya tidak merasakan apa-apa, namun teman-temannya malah merasakan seperti ada sentakan yang cukup keras begitu sehingga membuat pesawat agak oleng dan terkesan memang lambat untuk naik

“Bagi saya memang tidak terjadi apa-apa,” kata Marinah di akun youtube Suara NTB yang di aplod pada hari Jumat (22/1/2021).

Marinah yang merupakan politisi PKB pada waktu itu menceritakan bahwa, pada ketinggian berdasarkan infromasi dari pilot Abdul Razak pesawat ketika berada ditinggian kurang lebih 31.000 kaki pesawat mulai kerusakan tehnis yang disebabkan karena masalah cuacu hujan badai.

“Luar biasa dimana dalam ketinggian itu hujan dan badai, sempat dalam ketinggian 31.000 Kaki kurang lebih 15 Menit sebelum sampai ke Jogja kita masuk daerah Blora menuju Purwodadi terjadi hantaman badai disertai hujan  yang cukup deras nah disaat situlah kami merasakan sesuatu yang luar biasa,” Ungkap pria yang juga senior Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Mataram.

Mulai dari situlah kondisi pesawat mulai oleng dan mengalami mesin pesawat mati, sehingga sang pilot memilih tiga alternatif untuk melakukan pendaratan darurat pertama lapangan sepak bola, kedua air sungai yang diapit oleh jembatan.

“Berkat kekuasaan Allah SWT kita semua diselamatkan sehingga pilot dapat mengambil keputusan  untuk bisa lendingkan pesawat agar tidak menabrak jembatan tersebut,” Terangnya.

Pada saat pesawat oleng hingga mendarat darurat di sungai Bengawan Solo, Marinah tidak lagi bisa berbuat apa-apa saat itu.

“Saya rasakan sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, itu pengalaman yang dramatis mengalami spritual yang luar biasa, dan ada hikmah yang kita ambil,” Katanya.

Pada saat keluar dari pesawat dirinya kembali masuk kedalam pesawat untuk mengambil tas yang berisikan uang tunai untuk biaya ongkos kepulangan teman-temannya pulang.

Saat mencoba masuk sempat tidak diberikan masuk oleh Kabin namun akhirnya Marinah bisa masuk karena ada celah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *